Selasa, 29 Oktober 2019

BAB 2 PRINSIP KERJA ROUTING DAN ANALOGI ROUTING

ROUTING
1. Pengertian
    Routing  adalah sebuah alat yang mengirimkan paket data melalui sebuah jaringan atau Internet menuju tujuannya, melalui sebuah proses yang dikenal sebagai routing. Proses routing terjadi pada lapisan 3 (Lapisan jaringan seperti Internet Protocol) dari protokol tumpukan (stack protocol) tujuh-lapis OSI.

2. Latar Belakang
    Melatar belakangi dari seorang IT agar paham tentang routing menggunakan roterboard agar bisa mengirimkan pesan ping dari router satu ke router yang lainya.

3. Maksud dan Tujuan
    Mempunyai maksud dan tujuan agar seorang IT sadar apabila routing ini sangat perlu untuk dasar-dasar jaringan untuk menuju ke level jaringan yang lebih tinggi.

4. Hasil yang Di Harapkan
    Dapat memahami pengertian, fungsi dan jenis routing dan kedepannya dapat mengkonfigurasi 2 buah router atau lebih agar dapat saling berhubungan dengan mengirim pesan ping antara router satu dan lainya.

B. Alat dan Bahan
  • PC/Laptop
  • Koneksi Internet (jika perlu)
C. Jangka Waktu Pelaksanaan Kegiatan
  • 25 Menit
D. Proses dan Tahapan Pelaksanaan Kegiatan
Untuk pengertian sudah di jelaskan di atas, untuk lebih jelasnya silahkan baca di https://id.wikipedia.org/wiki/Penghala
>> Fungsi Routing 
      Pada prinsipnya, router digunakan untuk menghubungkan dan meneruskan data antara dua atau lebih jaringan satu dengan jaringan lainnya. Saat ini router lebih dikenal sebagai alat untuk menghubungkan jaringan yang dipasang baik di perumahan, kantor, warnet, atau instansi lainnya untuk menghubungkan dengan internet. Router umumnya memiliki kemampuan untuk memblokir broadcast storm yang dapat memperlambat kinerja jaringan. Router sering disalahartikan dengan switch, namun kedua alat ini memiliki fungsi yang berbeda, yaitu pada router ia berfungsi sebagai penghubung jalan antara jalan jaringan satu dengan jalan jaringan lainnya. Sementara pada switch, ia berfungsi seperti jalanan yaitu mengumpulkan jaringan-jaringan yang ada ke dalam satu jaringan dan membentuk LAN (Local Action Network).

>> Jenis Routing 
  • Routing Default, adalah routing yang digunakan untuk mengirim paket secara manual, sering digunakan pada jaringan yang hanya memiliki satu jalur keluar atau hanya bisa digunakan di lokal saja.
  • Routing Static, adalah router yang memiliki kabel routing statis yang settingannya diatur oleh administrasi jaringan secara manual.
  • Routing Dynamic, adalah router yang membuat tabel routing secara otomatis, dengan membaca lalu lintas jaringan dan tentu juga dengan saling berhubungan dengan router yang lain. Routing dinamis adalah routing yang paling mudah daripada routing default dan static.
>> Pembedaan Routing 
Selain tiga routing di atas, routing di bedakan menjadi tiga yaitu routing aplikasi, routing hardware, routing pc. Berikut penjelasannya.
  • Routing Aplikasi, Router ini tidak memiliki bentuk fisik seperti router pada umumnya, namun berupa aplikasi yang bisa Anda install pada sistem operasi komputer. Aplikasi ini kemudian bisa menjadikan komputer yang diinstal bisa berfungsi layaknya sebuah router. Aplikasi router yang bisa Anda gunakan antara lain adalah WinGate, WinProxy, Winroute, Spygate, dan aplikasi lainnya.
  • Routing Hardware, Router ini adalah perangkat keras yang bentuknya seperti yang sudah familiar di masyarakat yang berfungsi untuk membagi IP Address dan dapat digunakan untuk membagi koneksi internet di dalam suatu wilayah jangkauan yang biasanya disebut dengan hotspot area.
  • Routing PC, Router ini adalah menyulap sebuah komputer untuk bisa berfungsi sebagai router, tetapi berbeda dengan router aplikasi yang menggunakan aplikasi untuk mengubah komputer menjadi router. Untuk menjadikan sebuah komputer sebagai router tidak dibutuhkan komputer dengan spesifikasi tinggi. Hanya dengan komputer dengan prosesor Pentium 2, hard drive 10 GB, ram 64, dan telah tersedia LAN card sudah bisa mengubah komputer menjadi router untuk membagi jaringan. Agar bisa berfungsi, komputer yang ingin dijadikan router harus diinstal dengan sistem operasi yang khusus untuk router. Saat ini sistem operasi atau OS yang populer digunakan untuk router adalah Mikrotik.
>> Pembagian Routing
Routing di bagi menjadi dua yaitu routing langsung dan routing tidak langsung, berikut penjelasannya. 
  • Routing Langsung, Proses pengiriman data dari satu alamat IP ke alamat IP lainnya tanpa melalui sebuah Host. Contohnya : Misal ada komputer A dengan alamat IP 192.168.1.40 ingin mengirimkan data ke komputer B dengan alamat IP 192.168.1.50, maka proses datanya bisa langsung dikirim, sedangkan.
  • Routing Tidak Langsung, Proses pengiriman tak langsung, data yang dikirim akan melalui sebuah Host lain, misalnya data yang dikirimkan oleh Komputer IP 192.168.2.2 ke alamat IP 192.168.2.3 harus melewati IP 192.168.2.4 terlebih dahulu sebelum disampaikan ke alamat IP192.168.2.3 jadi untuk proses ini tidak bisa data langsung dikirim ke alamat tujuan, harus melewati host/alamat ip lain.
>> Konsep Dasar Routing 
      Routing adalah proses yang dialami datagram untuk mencapai tujuan di jaringan TCP/IP. Konsep routing adalah hal yang utama pada lapisan internet di jaringan TCP/IP. Hal ini karena pada lapisan internet terjadi proses pengalamatan. Data-data dari device yang terhubung ke internet dikirim dalam bentuk datagram, yaitu paket data yang didefinisikan oleh IP. Datagram memiliki alamat tujuan paket data. Internet Protokol memeriksa alamat ini untuk menyampaikan datagram dari device asal ke device tujuan. Jika alamat tujuan datagram tersebut terletak satu jaringan dengan device asal, datagram tersebut langsung disampaikan.Jika alamat tujuan datagram tidak terdapat di jaringa yang sama, datagram akan disampaikan kepada router yang paling tepat.

>> Tabel Routing
      Router merekomendasikan tentang jalur yang digunakan untuk melewatkan paket berdasarkan informasi yang terdapat pada Tabel Routing. Informasi yang terdapat pada tabel routing dapat diperoleh secara static routing melalui perantara administrator dengan cara mengisi tabel routing secara manual ataupun secara dynamic routing menggunakan protokol routing, dimana setiap router yang berhubungan akan saling bertukar informasi routing agar dapat mengetahui alamat tujuan dan memelihara tabel routing.
  • Alamat Network Tujuan
  • Interface Router yang terdekat dengan network tujuan
  • Metric, yaitu sebuah nilai yang menunjukkan jarak untuk mencapai network tujuan. Metric tesebut menggunakan teknik berdasarkan jumlah lompatan (Hop Count).
E. Hasil yang Di Dapatkan
     Dapat paham tentang routing sebelum melakukan routing yang sebenarnya, seharusnya jika seorang IT ingin melakukan hal yang real/sebenarnya maka perlu persiapan yaitu memahami tentang routing, melakukan routing dengan simulasi jika sudah paham baru melakukan yang sebenarnya.

F. Temuan Permasalahan
     Saya pribadi sudah paham tetapi belum secara keseluruhan paham tentang routing.

G. Kesimpulan
     Dapat di simpulkan jika routing sangat penting dan berfungsi untuk menghubungkan dua buah router atau lebih agar dapat berkomunikasi

The routing tables are an important part of Windows’ TCP/IP protocol stack, but they aren’t something that the operating system normally displays to the casual user. If you want to see the routing tables, you will have to open a Command Prompt window and then enter the ROUTE PRINT command. Upon doing so, you will see a screen similar to the one that’s shown in Figure A.

Figure A: This is what the Windows routing tables look like
Before I delve into the routing tables, I recommend entering another command into the Command Prompt window. The command is:
IPCONFIG /ALL
The reason why I am recommending that you use the IPCONFIG /ALL command is because it shows you how TCP/IP is really setup on the machine. Sure, you could look in the TCP/IP section of the network adapter’s properties sheet, but the information is more reliable if you get it from IPCONFIG. I have seen a couple of instances over the years in which IPCONFIG reported completely different information than what was entered into the machine’s TCP/IP configuration screen. This doesn’t happen often, but if the right type of error occurs you can experience this type of mismatch. To put it bluntly, the information that’s keyed into the TCP/IP properties sheet reflects how you would like Windows to set up the TCP/IP protocol for the choosen network. The information presented by IPCONFIG shows how Windows has actually configured the protocol.
Even if you haven’t had some bizarre Windows error, it’s still useful to get your configuration information through IPCONFIG. If a machine has multiple network cards, it can be tough to remember which configuration is bound to which card. IPCONFIG lists the various configurations in an easy to read, per NIC basis, as shown in Figure B.

Figure B: The IPCONFIG /ALL displays the machine’s TCP/IP configuration on a per NIC basis

Examining the Routing Tables

Right about now you might be wondering why I had you to do an IPCONFIG /ALL, when this article is supposed to be discussing routing tables. The reason for this is that normally you never even look at the routing tables unless you are having problems with your machine. If you are having problems, then the best place to start the troubleshooting process is to compare the information provided by IPCONFIG to the information stored in the routing tables.
As you saw in Figure B, the IPCONFIG /ALL screen displayed some basic TCP/IP information such as the IP address, the default gateway, etc. The routing tables aren’t quite as intuitive though. Therefore, I want to take some time to discuss how to read the routing tables and what the information in the tables mean.
In order to understand what the information in these columns mean, you need to understand a little bit about how a router works. A router’s job is to facilitate moving traffic from one network to another. As such, a router will contain multiple network interface cards, each connected to a different network segment.
When a user sends a packet that’s destined for a different network segment than the one that the PC is presently attached to, the packet is sent to the router. It is up to the router to figure out which network segment the packet should be forwarded to. It doesn’t matter if the router is connected to two network segments or a dozen. The decision making process is the same, and it’s all based on routing tables.
If you look at the Route Print screen, you will notice that the routing tables are divided into five different columns. The first column is the network destination column. This column lists all of the network segments that the router is attached to. The Netmask column provides the subnet mask not of the network interface that’s attached to the segment, but of the segment itself. This basically allows the router to determine the address class for the destination network.
The third column is the gateway column. Once the router has determined which destination network it needs to send the packet to, it looks at the gateway listing. The gateway listing tells the router which IP address the packet should be forwarded through in order to reach the destination network.
The Interface column tells the router which NIC is connected to the appropriate destination network. Technically, the interface column only tells the router the IP address that has been assigned to the NIC that connects the router to the destination network. However, the router is smart enough to know which physical interface the address has been bound to.
The final column in the routing table is the Metric column. Metrics are a science in themselves, but I will try to give you a brief explanation of what they do. The best way that I have ever heard metrics explained is in terms of an airport. Imagine for a moment that I needed to fly from Charlotte, NC (the closest major airport to my home in South Carolina) to Miami, Florida. Being that the Charlotte airport is pretty big, I have a lot of choices of how I could get to Miami Beach. I could hop a North West Airlines flight. It would take me to Detroit Michigan and then down to Miami (Detroit is a bit out of the way). Likewise, I could hop a Continental Airlines flight that would take me to Houston, TX, and then to Miami. Another option would be to just take a US Airways flight nonstop to Miami. So which airline should I take?
In real life, there are a lot of factors to consider such as the price of the ticket and the departure times, but let’s assume that everything was equal. If there were no differences between the airlines other than the route, then I would fly the airline that makes the fewest stops. It would get me to my destination more quickly, and since there are fewer stops, there would be less chance of having a problem with my connection, lost luggage, and things like that.
Routing works the same way. Many times, there is more than one way that a router could send a packet. In such a case, it makes sense to send the packet along the shortest (or most reliable) path. This is where the metrics come into play. Windows does not even look at metrics unless there are multiple paths to a destination. If there are multiple paths though, Windows checks the metrics to determine the shortest route. This is an over simplified explanation, but it gets the point across.

Additional Routing Options

Earlier, I showed you the Route Print command, but there are actually a lot of other things that you can do with the ROUTE command. The ROUTE command’s syntax is as follows:
ROUTE [-f] [-p] [command [destination] []
The –f switch is optional. This switch tells Windows to clear the routing table of all gateway entries. If the –f switch is used in conjunction with other commands then all gateway entries will be cleared prior to executing other instructions within the command.
The –p switch makes a specified route persistent. Normally, when a server is rebooted then any routes that you specify via the ROUTE command are removed. The –p switch tells Windows to keep the route even if the system is rebooted.
The command portion of the ROUTE command’s syntax is relatively simple. The command set consists of four options PRINT, ADD, DELETE, and CHANGE. I’ve already shown you the ROUTE PRINT command, but even the ROUTE PRINT command has other options. For example, you can use wild cards with this command. For instance, if you only wanted to print routes pertaining to the 192.x.x.x subnet, you could use the command ROUTE PRINT 192*.
The ROUTE DELETE command works very similarly to the ROUTE Print command. Simply enter the ROUTE DELETE command followed by the destination or the gateway that you want to delete from the routing table. For example, if you wanted to remove the 192.0.0.0 gateway, you could enter the command ROUTE DELETE 192.0.0.0.
The ROUTE CHANGE and the ROUTE ADD commands have the same basic syntax as each other. When you enter this command, you must usually specify the destination, subnet mask, and gateway. You might also specify a metric and an interface, but that’s optional. For example, if you wanted to add a destination using the bare minimal syntax, you could do so as follows:
ROUTE ADD 147.0.0.0 255.0.0.0 148.100.100.100
In this command, 147.0.0.0 is the new destination that you are adding. 255.0.0.0 would be the subnet mask for the destination, and 148.100.100.100 would be the gateway address. You can extend the command with the METRIC and IF parameters. Doing so would look something like this:
ROUTE ADD 147.0.0.0 255.0.0.0 148.100.100.100 METRIC 1 IF 1
The metric parameter is optional, but it specifies the metric or number of hops for the route. The IF parameter tells Windows which NIC to use. In this particular case, Windows would use the NIC that’s bound to Windows as interface 1. If you don’t use the IF parameter then Windows will automatically search for the best interface to use.

Conclusion

In this article, I have explained how to use the ROUTE command to display the Windows routing tables and make changes to those tables if necessary. If you need a little extra help, you can get more syntax examples by entering the ROUTE /? Command.

ANALOGI
Analogi :
Misalkan kita berada pada persimpangan jalan, mungkin kita akan merasa bingung jika tidak ada petunjuk jalan, di setiap persimpangan jalan (router) seharusnya ada petunjuk jalan supaya orang tidak bingung dan tersesat. Untuk jalan yang rumit dan berputar-putar tidaklah cukup jika menggunakan static routing. Tentunya kita akan merasa bingung jika disetiap persimpangan kita harus bertanya pada orang apalagi kepada orang yang tidak tahu. Oleh karena itu disini diperlukan dinamic routing, analoginya seperti ada polisi yang membawa HT dan memberikan jalur mana saja yang bisa dilewati. Polisi akan selalu koordinasi beberapa kali sehari, agar jika ada jalan yang macet, ada tabrakan, ada pohon rubuh, polisi akan segera meng-update petunjuk jalan yang lain.
Biasanya polisi yang bertingkat rendah akan memakai HT yang kita sebut sebagai RIP, yang memiliki jarak paling jauh 30 hop (simpangan). Polisi yang berada pada tempat yang ramai bisa menggunakan isis atau ospf, biasanya sudah membawa HP maupun PDA jadi akan lebih pintar dan cepat untuk melakukan update. Polisi tingkat dunia biasanya memiliki kantor pada persimpangan dan sudah mempunyai peralatan pengacak jaringan seluruh dunia, ini disebut BGP.
Ada dua bagian routing paket IP :
  1. Bagaimana meneruskan paket dari interface input ke interface output pada suatu router (“IP forwarding”) ?
  • Paket biasanya diteruskan (forwarding) kesejumlah router sebelum mencapai host tujuan
  • IP forwarding dilaksanakan atas dasar hop-by-hop yaitu tidak ada yang tau rute yang lengkap. Tujuan forwarding adalah membawa paket IP lebih dekat ke tujuan
2.Bagaimana mencari dan men-setup rute (“Routing algorithm”) ?
 
Protokol routing membentuk suatu tabel routing yang digunakan untuk menyeleksi jalur yang akan digunakan. Didalam tabel routing terdapat suatu alamat tujuan paket data dan hop yaitu suatu router yang akan dituju setelah router tersebut.
Konsep berikut sangatlah penting untuk memahami routing pada jaringan IP:
–        Autonomous system
–        Interior vs  Exterior routing
–        Distance vector vs. link state routing algorithms
Autonomous System (AS)
Suatu autonomous system adalah bagian logical dari jaringan IP yang besar, biasanya dimiliki oleh sebuah organisasi jaringan dan diadministrasikan oleh sebuah management resmi. Setiap router dapat berkomunikasi dengan router yang lain dalam satu autonomous system.
Contoh dari autonomous region adalah:
–        Internet Service Provider Regional
–        Jaringan kampus ITB
Di dalam autonomous system, routing dilaksanakan secara:
  1. Interior Routing  yaitu dalam autonomous system
  2. Exterior Routing  yaitu antara autonomous system

Read More ->>

Rabu, 23 Oktober 2019

BAB 1 ACCESS CRONTROL LIST

Access Control List


Pengertian ACL

ACL (Access Control List) merupakan metode selektivitas terhadap packet data yang akan dikirimkan pada alamat yang dituju. Secara sederhana ACL dapat kita ilustrasikan seperti halnya sebuah standard keamanan. Hanya packet yang memiliki kriteria yang sesuai dengan aturan yang diperbolehkan melewati gerbang keamanan, dan bagi packet yang tidak memiliki kriiteria yang sesuai dengan aturan yang diterapkan, maka paket tersebut akan ditolak. ACL dapat berisi daftar IP address, MAC Address, subnet, atau port yang diperbolehkan maupun ditolak untuk melewati jaringan.

Jenis-jenis ACL

standard ACL

Standard ACL merupakan jenis ACL yang paling sederhana. Standard ACL hanya melakukan filtering pada alamat sumber (Source) dari paket yang dikirimkan. Alamat sumber yang dimaksud dapat berupa alamat sumber dari jaringan (Network Address) atau alamat sumber dari host. Standard ACL dapat diimplementasikan pada proses filtering protocol TCP, UDP atau pada nomor port yang digunakan. Meskipun demikian, Standard ACL hanya mampu mengijinkan atau menolak paket berdasarkan alamat sumbernya saja. Berikut ini adalah contoh konfigurasi dari Standard ACL.
Pada konfigurasi di atas, nomor daftar akses IP adalah 1 – 99, kemudian permit / deny adalah sebuah parameter untuk mengizinkan atau menolak hak akses. IP address diisi dengan alamat pengirim atau alamat asal, kemudian wildcard mask adalah untuk menentukan jarak dari suatu subnet.

Extended ACL

Extended ACL merupakan jenis ACL yang mampu memberikan tingkat keamanan yang lebih baik ketimbang Standard ACL. Extended ACL mampu melakukan filtering pada alamat sumber (source) dan alamat tujuan (destination). Selain itu extended ACL memberikan keleluasaan kepada admin jaringan dalam melakukan proses filtering dengan tujuan yang lebih spesifik.

Pada konfigurasi diatas, nomor daftar akses IP extended adalah 100 – 199, kemudian sama dengan standart ACL permit atau deny adalah sebuah parameter untuk mengizinkan atau menolak hak akses. Protokol dapat diisi dengan TCP, UDP, dsb. Destination address diisi dengan alamat yang akan dituju, wildcard mask untuk menentukan jarak subnet. Operator dapat diisi seperti eq

Cara Kerja ACL

 

Keputusan dibuat berdasarkan pernyataan/statement cocok dalam daftar akses dan kemudian menerima atau menolak sesuai apa yang didefinisikan di daftar pernyataan. Perintah dalam pernyataan ACL adalah sangat penting, kalau ditemukan pernyataan yang cocok dengan daftar akses, maka router akan melakukan perintah menerima atau menolak akses. 
Pada saat frame masuk ke interface, router memeriksa apakah alamat layer 2 cocok atau apakah frame broadcast. Jikaalamat frame diterima, maka informasi frame ditandai dan router memeriksa ACL pada interface inbound. 
Jika ada ACL, paket diperiksa lagi sesuai dengan daftar akses. Jika paket cocok dengan pernyataan, paket akan diterima atau ditolak. Jika paket diterima di interface, ia akan diperiksa sesuai dengan table routing untuk menentukan interface tujuan dan di-switch keinterface itu. Selanjutnya router memeriksa apakah interface tujuan mempunyaiACL. Jika ya, paket diperiksa sesuai dengan daftar akses. Jika paketcocok dengan daftar akses, ia akan diterima atau ditolak. Tapi jika tidak ada ACL paket diterima dan paketdienkapsulasi di layer 2 dan di-forwardkeluar interface device berikutnya. 
         Membuat ACL
Ada dua tahap untuk membuat ACL. Tahap pertama masuk ke mode global config kemudian memberikan perintah  access-listdan diikuti dengan parameter-parameter. Tahap kedua adalah menentukanACL ke interface yang ditentukan. 
Dalam TCP/IP, ACL diberikan ke satu atau lebih interface dan dapat memfilter trafik yang masuk atau trafik yang keluar dengan menggunakan perintah ip access-grouppada mode configuration interface. Perintah access-groupdikeluarkan harus jelas dalam interface masuk atau keluar. Dan untuk membatalkan perintah cukup diberikan perintah no access-list list-number. amang@eepis-its.edu  144
Aturan-aturan yang digunakan untuk membuat access list: 
·         Harus memiliki satu access list per protokol per arah.
·         Standar access list harus diaplikasikan ke tujuan terdekat.
·         Extended access list harus harus diaplikasikan ke asal terdekat.
·         Inbound dan outbound interface harus dilihat dari port arah masuk router.
·         Pernyataan akses diproses secara sequencial dari atas ke bawah sampai ada yang cocok. Jika tidak ada yang cocok maka paket ditolak dan dibuang.
·         Terdapat pernyataan  deny anypada akhir access list. Dan tidak kelihatan di konfigurasi.
·         Access list yang dimasukkan harus difilter dengan urutan spesifik ke umum. Host tertentu harus ditolak dulu dan grup atau umum kemudian.
·         Kondisi cocok dijalankan dulu. Diijinkan atau ditolak dijalankan jika ada pernyataan yang cocok.
·         Tidak pernah bekerja dengan access list yang dalam kondisi aktif.
·         Teks editor harus digunakan untuk membuat komentar.
·         Baris baru selalu ditambahkan di akhir access list. Perintah no accesslist x akan menghapus semua daftar.
·         Access list berupa IP akan dikirim sebagai pesan ICMP host unreachable ke pengirim dan akan dibuang.
·         Access list harus dihapus dengan hati-hati. Beberapa versi IOS akan mengaplikasikan default deny any ke interface dan semua trafik akan berhenti.
·         Outbound filter tidak akan mempengaruhitrafik yang asli berasal dari router local.  

Read More ->>

BAB 1 INTER VLAN ROUTING

Iner-VLAN Routing

Pengertian
Virtual LAN atau disingkat VLAN merupakan sekelompok perangkat pada satu LAN atau lebih yang dikonfigurasikan (menggunakan perangkat lunak pengelolaan) sehingga dapat berkomunikasi seperti halnya bila perangkat tersebut terhubung ke jalur yang sama, padahal sebenarnya perangkat tersebut berada pada sejumlah segmen LAN yang berbeda. Vlan dibuat dengan menggunakan jaringan pihak ke tiga. VLAN merupakan sebuah bagian kecil jaringan IP yang terpisah secara logik. VLAN memungkinkan beberapa jaringan IP dan jaringan-jaringan kecil (subnet) berada dalam jaringan switched switched yang sama. Agar computer bisa berkomunikasi pada VLAN yang sama, setiap computer harus memiliki sebuah alamat IP dan Subnet Mask yang sesuai dengan VLAN tersebut. Switch harus dikonfigurasi dengan VLAN dan setiap port dalam VLAN harus didaftarkan ke VLAN. Sebuah port switch yang telah dikonfigurasi dengan sebuah VLAN tunggal disebut sebagai access port.
Latar Belakang
Mempelajari Inter-VLAN Routing

Maksud & tujuan
Mengerti cara Inter-VLAN Routing

Hasil yang diharapkan
Berhasil mengkonfigurasi Inter-VLAN Routing

C. Alat & Bahan
- Cisco Packet Tracer
- Pc /Laptop

D. Jangka waktu pelaksanaan
30 menit

E. Proses tahapan pekerjaan
1. Topologi Inter-VLAN Routing
2. Konfigurasi Pada Switch
a) S-1 (Switch1)
Membuat dan memberi nama VLAN
Membuat akses VLAN
Pada interface yang menuju router dibuat mode trunk
b) S-2 (Switch2)
Membuat dan memberi nama VLAN
Membuat akses VLAN
Pada interface yang menuju router dibuat mode trunk
3. Konfigurasi Router
Menghidupkan FastEthernet 0/0
Membuat sub interface
Menghidupkan FastEthernet 0/1
Membuat sub interface
4. Tes ping
a) PC0 >> PC2
b) PC1 >> PC3

F. Hasil yang didapatkan
Berhasil mengkonfigurasi Inter-VLAN Routing

G. Temuan masalah
Tidak ada

H. Kesimpulan yang didapat
Dengan Inter-VLAN Routing dapat menggabungkan antar VLAN yang berbeda
Read More ->>

BAB 1 TRUNKING PROTOCOL

1. Standar IEE 802.1.q
IEEE 802.1Q, atau VLAN Tagging, adalah sebuah jaringan yang ditulis oleh standar IEEE 802.1 mengizinkan beberapa workgroup bridge jaringan untuk berbagi transparan link jaringan fisik yang sama tanpa kebocoran informasi antara jaringan. IEEE 802.1Q — along with its shortened form dot1q — is commonly used to refer to the encapsulation protocol used to implement this mechanism over Ethernet networks. IEEE 802.1Q - bersama dengan bentuk singkat dot1q - biasanya digunakan untuk merujuk pada enkapsulasi protokol yang digunakan untuk menerapkan mekanisme ini melalui Ethernet jaringan.

IEEE 802.1Q mendefinisikan arti dari sebuah Virtual LAN (VLAN) yang berkaitan dengan model konseptual tertentu yang mendukung bridging pada lapisan MAC dan pohon 802.1Dspanning IEEE protokol. IEEE 802.1Q mendefinisikan arti dari sebuah Virtual LAN (VLAN) yang berkaitan dengan Model Konseptual Tertentu yang mendukung bridging pada lapisan MAC dan ke 802.1D IEEEprotokol spanning tree. Protokol ini memungkinkan untuk setiap VLAN untuk berkomunikasi dengan satu sama lain dengan menggunakan sebuah switch dengan kemampuan lapisan-3, atau router. Protokol ini memungkinkan untuk setiap VLAN untuk berkomunikasi dengan satu sama lain dengan Menggunakan sebuah saklar dengan lapisan-3 kemampuan, atau router.

Trunking VLAN dengan 802.1Q
Jika menggunakan vlan dalam jaringan yang mempunyai beberapa switch yang saling berhubungan antar VLAN, maka dibutuhkan VLAN trunk. Switch memerlukan cara untuk mengidentifikasi VLAN dari mana frame tersebut dikirim saat mengirim sebuah frame ke switch lain. VLAN trunking mengizinkan switch memberikan tagging setiap frame yang dikirim antar switch sehingga switch penerima mengetahui termasuk dari VLAN mana frame tersebut dikirim. Beberapa VLAN yang mempunyai lebih dari satu switch dapat didukung dengan adanya VLAN trunking.Ilustrasi:Misal, saat Switch1 menerima sebuah broadcast dari sebuah piranti didalam VLAN1, ia perlu meneruskan broadcast ke SwitchB. Sebelum mengirim frame, SwitchA menambahkan sebuah header kepada frame Ethernet aslinya; heder baru tersebut mengandung informasi VLAN didalamnya. Saat SwitchB menerima frame tersebut, ia mengetahui dari headernya bahwa frame tersebut berasal dari piranti pada VLAN1, maka SwitchB mengetahui bahwa ia seharusnya meneruskan broadcast frame hanya kepada port2 pada VLAN1 saja dari Switch tersebut.Switch yang mendukung dua VLAN trunking protokol yang berbeda, Inter-switch link (ISL) dan IEEE 802.1Q.Encapsulation: proses transmisi lalu lintas jaringan yang menggunakan satu protokol jaringan dengan mengemasnya ke dalam protokol jaringan lain




Cisco Inter-Switch Link ( ISL ) adalah protokol milik Cisco Systems yang mengelola informasi VLAN dalam bingkai Ethernet saat lalu lintas mengalir di antara sakelar dan router , atau sakelar dan sakelar. [1] ISL adalah protokol enkapsulasi VLAN Cisco dan hanya didukung pada beberapa peralatan Cisco melalui tautan Fast dan Gigabit Ethernet . Ini ditawarkan sebagai alternatif dari standar IEEE 802.1Q , protokol penandaan VLAN yang banyak digunakan, meskipun penggunaan ISL untuk situs-situs baru sudah tidak digunakan lagi oleh Cisco. [2]
Read More ->>

BAB 1 VTP (VIRITUAL TRUNKING PROTOCOL)

  1. Apa itu VTP ?
VTP adalah adalah suatu protokol untuk mengenalkan suatu atau sekelompok VLAN yang telah ada agar dapat berkomunikasi dengan jaringan. Atau menurut sumber lain mengatakan suatu metoda dalam hubungan jaringan LAN.
VTP (VLAN Trunking Protocol) biasanya digunakan untuk menyederhanakan pembuatan VLAN pada banyak switch. Pada VTP ada switch yang bertindak sebagai VTP server, VTP transparent, VTP client :
1.1  VTP Server
Switch ini digunakan sebagai untuk melakukan create, add, delete suatu VLAN. Kemudian informasi yang telah dibuat tadi diteruskan ke switch VTP transparent dan VTP client.
1.2  VTP Transparent
Switch ini tidak menyimpan informasi yang dikirim dari VTP server, dia hanya meneruskan informasi tersebut ke VTP client.
1.3  VTP client
Switch yang menerima dan menyimpan informasi VLAN yang dikirim oleh VTP server melalui VTP transparent.
Langkah pemilihan VTP server, transparant, dan client, dilakukan berdasarkan configuration revision number yang saat switch dihidupkan makan bertambah jumlahnya mulai dari 0 sampai 2.147.483.648, walaupun sudah disetting ke mode VTP client, switch harus di reload dulu agar revision number kembali ke 0 sebab angka yang tinggi akan menimpa angka yang lebih rendah. Angka lebih tinggi akan menjadi VTP server.
2. Penerapan pada Cisco Packet Tracer.
Pada kesempatan ini saya ingin memberikan contoh bagaimana mengkonfigurasikan sebuah VTP dalan cisco switch. Disini saya tidak menggunakan switch asli cisco, tetapi menggunakan software Packet Tracer.
Pada konfigurasi VTP ini, saya memiliki topologi seperti berikut :
 Topologi
Pada topologi diatas saya memakai 4 buah switch tipe 2960. Pada topologi diatas switch ada yang berfungsi sebagai VTP Server, VTP Client, dan VTP Transparent. Tanpa berlama-lama berikut konfigurasi VTP :
Konfigurasi VTP Server
 
Klik pada switch yang dijadikan VTP Server, pilih CLI. Pertama-tama buat domain dan ubah mode vtp siwtch tersebut menjadi server. Konfigurasinya sebagai berikut :
VTP_1.png
Setelah membuat domain dan mengubah mode vtp pada switch, buat vlan 10, 20, dan 30 pada switch tersebut.
 VTP_2.png
Kemudian buat jalur trunk pada salah interfaces di switch tersebut.
Untuk konfigurasi vtp server hanya sebatas konfig diatas.
Konfigurasi VTP Client
 
Pada switch vtp client hanya mengkonfigurasi domain, mode vtp, dan membuat interfaces untuk jalur trunks. untuk konfigurasi domain dan mode vtp berikut konfignya :
Konfigurasi VTP Transparent
 
Sama halnya dengan vtp client, vtp transparent hanya mengkonfigurasi domain, vtp mode, dan jalur untuk trunk. Berikut konfigurasi domain, dan vtp mode :
Setelah itu buat jalur untuk trunk, berikut konfigurasinya :
Untuk konfigurasi vtp transparent hanya sebatas konfig diatas.
Verifikasi Konfigurasi VTP
 
Verifikasi dengan melihat vtp status dan vlan yang ada di vtp server dan vtp client. Berikut verifikasi vtp status :
Terlihat pada gambar diatas, vtp status pada vtp server dan vtp client sama. Sekarang verifikasi vlan pada vtp server dan vtp client.
Dengan menggunakan VTP, kita tidak perlu mengkonfigurasikan VLAN pada tiap switch. Hanya cukup mengkonfigurasinya pada VTP server, maka konfigurasi tsb akan diteruskan di Switch yang digunakan sebagai VTP Client.
Konfigurasi VLAN pada VTP Client
Didalam topologi yang saya buat diatas terdapat pc yang terhubung dengan vtp client. Untuk membuatnya perlu mengkonfigurasi interfaces yang akan dimasukan kedalam vlan 10, 20, dan 30, berikut konfigurasinya :
Konfigurasi diatas berlaku untuk kedua VTP Client yang ada. Kemudian hubungkan PC0, PC1, & PC2 masing-masing ke VLAN10, VLAN20, & VLAN30 di VTP Client pertama. Setelah hubungkan PC3, PC4, & PC5 masing-masing ke VLAN10, VLAN20, & VLAN30 di VTP Client kedua.
Konfigurasi IP address ditiap PC dan ingat untuk PC dengan vlan yang sama harus berada dalam 1 network address yang sama. Berikut hasil konfigurasi tsb :
PC0 ke PC3 (VLAN10)
PC1 ke PC4 (VLAN20)
PC3 ke PC5 (VLAN30)
Apabila mendapat reply pada saat melakukan ping, maka konfigurasi telah berhasil dilakukan. Demikian contoh konfigurasi VTP di software packet tracer, atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.
Read More ->>

BAB 1 (TIPE VLAN)

TIPE VLAN



VLAN dibagi menjadi 3:
1. VLAN Data
VLAN data adalah VLAN yang dikonfigurasi hanya untuk membawa traffic yang diperlukan untuk traffic tertentu digunakan oleh user.
     2. Default VLAN
adalah kondisi dimana semua port yang terdapat pada switch menjadi anggota VLAN setelah boot up switch dinyalakan. Konfigurasi ini membuat semua port menjadi aktif akan berada pada satu broadcast domain.
     3. Native VLAN
Sebuh native VLAN diberikan ke sebuah 802.1Q trunk port. 802.1Q trunk port mendukung traffic yang datang dari banyak VLAN (tags traffic atau tags port). 802.1Q trunk port ditempatkan bersama dengan port untags agar setiap anggota pada VLAN untags mampu mentransmisikan data keluar dari switch 1 menuju switch 2 yang memiliki keanggotaan sama pada VLAN yang terdapat pada switch 1.
Read More ->>

BAB 1 (VLAN ID)

VLAN ID

Untuk memberi identitas sebuah VLAN digunakan nomor identitas VLAN yang dinamakan VLAN ID. Digunakan untuk menandai VLAN yang terkait. Dua range VLAN ID adalah:
a. Normal Range VLAN (1 – 1005)
  Digunakan untuk jaringan skala kecil dan menengah.
  • Nomor ID 1002 s.d. 1005 dicadangkan untuk Token Ring dan FDDI VLAN.
  • ID 1, 1002 – 1005 secara default sudah ada dan tidak dapat dihilangkan.
  • Konfigurasi disimpan di dalam file database VLAN, yaitu vlan.dat. file ini disimpan dalam memori flash milkik switch.
  • VLAN trunking protocol (VTP), yang membantu manajemen VLAN, hanya dapat bekerja pada normal range VLAN dan menyimpannya dalam file database VLAN.
b. Extended Range VLANs (1006 – 4094)
Memungkinkan para service provider untuk memperluas infrastrukturnya kepada konsumen yang lebih banyak. Dibutuhkan untuk perusahaan skala besar yang membutuhkan jumlah VLAN lebih dari normal.Memiliki fitur yang lebih sedikit dibandingakn VLAN normal range.
  • Disimpan dalam NVRAM (file running configuration).
  • VTP tidak bekerja di sini.

     

    Fungsi VLAN ID

    Vlan Membership Based On Network Layer Address
            Pasti kamu tahu apa itu LAN, MAN, WAN, & beberapa jenis Area Network, sudah tidak asing lagi namanya bagi yang suka main Komputer/Laptop ataupun juga main di Warnet😄, tapi apakah kamu tahu apa itu VLAN?
    Saya akan memberitahukan apa itu VLAN dan apa sih Fungsi/Kegunaan VLAN itu, bukannya LAN sama VLAN itu sama saja ya? tidak. Mari kita mulai untuk tahu lebih dalam lagi tentang VLAN.......

    A. Yang Harus Kalian Ketahui Tentang VLAN ID :

    • Ada beberapa dasar materi VLAN ID :
  • Pengertian VLAN ID
  • Macam - Macam VLAN ID, dan
  • Fungsi/Kegunaan VLAN ID
B. Standar IEEE 802.1.Q

C. Keterangan VLAN ID

Mari kita mulai membahas VLAN ID.....

A. Yang Harus Kalian Ketahui Tentang VLAN ID :
  • Pengertian VLAN ID
    Suatu VLAN ID yang ditetapkan ke port akses untuk membagikan atau memetakan LAN Virtual yang mana port ini terhubung ke switch
  • Macam - Macam VLAN ID

    1. Normal Range VLAN (1 - 1005)
    - Digunakan untuk jaringan skala kecil dan menengah
    - Nomor I 1002 s/d 1005 dicadangkan untuk Token Ring dan FDDI VLAN
    - ID 1, 1002 s/d 1005 secara default sudah ada dan tidak dapat dihilangkan
    - Konfigurasi disimpan dalam file database VLAN, yaitu vlan.dat file ini disimpan dalam memori flash milik switch
    - VLAN Trunking Protocol (VTP), yang membantu management VLAN, hanya dapat bekerja pada normal range VLAN dan menyimpannya dalam file database

    2. Extended Range VLANs (1006-4094)- Memampukan para service provider untuk memperluas infrastrukturnya kepada konsumen yang lebih banyak . Dibutuhkan untuk perusahaan skala besar yang membutuhkan jumlah VLAN lebih dari normal.
    - Memiliki fitur yang lebih sedikit dibandingkan VLAN normal range
    - VTP tidak bisa bekerja disini
  • Fungsi atau Kegunaan VLAN ID

    1. 
    Untuk membedakan masing - masing VLAN.
    2. Untuk menunjukan Peng-Alamatan yang ditujunya.
    3. Untuk mencegah terjadinya collision domain (tabrakan domain)
B. Standar IEEE 802.1.Q

         
Menurut IEEE Standar 802.1.Q VLAN memberikan sebuah metode untuk membagi satu fisik Network ke banyak broadcast domain. Broadcast domain ini biasanya sama dengan batas ID Subnet. Setiap Subnet mempunyai satu VLAN. VLAN memperbolehkan banyak Virtual Lan berdampingan dalam sebuah fisik LAN (Switch). Jadi, semisal ada dua mesin yang terhubung dalam sebuah switch, keduanya tidak dapat mengirim Ethernet Frame ke mesin lain.
C. Keterangan VLAN ID

        Vlan diklasifikasikan atau dikelompokkan yang berbeda - beda berdasarkan tipe yang digunakan Switch. Bark menggunakan port MAC Address dan lain sebagainya.
Peng-Alamatan suatu VLAN disimpan dalam suatu databese, untuk mengaturnya yaitu menggunakan Switch. Switch inilah yang Memanage dan bertanggung jawab menyimpan semua informasi dan konfigurasi suatu VLAN, switch akan menentukan kemana data-data akan diteruskan dan sebagainya.
Switch juga dapat digunakan untuk peng-Alamatan Software yang berfungsi mencatat untuk menghubungkan antar VLAN yang dibutuhkan Router.
Read More ->>

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

Pengikut